Mengelola Keuangan di Masa Pandemi

Setiap kali mendengar kata covid-19 terbayang di dalam benak kita sebagai sosok yang sangat menakutkan. Awalnya kita menganggap remeh mengenai virus ini. Bahkan di awal maret saya sempat melakukan perjalanan ke luar negeri; saya menganggap bahwa virus ini tidak mungkin akan berdampak terlalu besar, hingga akhirnya WHO menetapkan bahwa covid-19 sebagai pandemi yang terjadi di seluruh dunia.

Beberapa bahkan hampir seluruh belahan di dunia mulai panik, hingga melakukan lock down dan berdampak pada perekonomian di seluruh dunia.

Kita semua tentu mulai merasakan perubahan besar sedang terjadi di dalam hidup kita. Sebagian besar restaurant tidak menerima dine in dan hanya menerima pesanan via online saja. Mall yang mana tempat hiburan bagi seluruh keluarga di saat weekend untuk saat ini hanya beroperasi dari jam 12.00-20.00 saja.

Begitu juga dengan saya yang mana setiap hari melakukan kunjungan visit ke klien-klien saya, sekarang hanya terbatas menggunakan komunikasi via zoom agar kita masih tetap dapat bertatap muka dan tentunya akan berdampak ke banyak sektor lainnya.

Dampak Pandemi dari Virus Corona (Covid-19) tidak hanya merugikan dari sisi kesehatan saja, bahkan ekonomi global dipastikan akan melambat. Beberapa stimulus ekonomi diluncurkan oleh Bapak Presiden kita Joko Widodo, dimana Bapak Presiden meminta seluruh pihak untuk melakukan social distancing termasuk Work From Home (WFH) dan beberapa Kepala Daerah memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajar hingga melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang secara otomatis berdampak pada perekenomian pribadi kita.

Untuk kita yang tidak pernah melakukan perencanaan keuangan, pasti kita menganggap bahwa membuat sebuah perencanaan itu tidak terlalu penting. Toh selama ini kondisi keuangan saya masih aman-aman saja, tidak pernah ada kekurangan yang berarti.

Namun siapa yang menyangka bahwa pandemi atas Covid-19 ini mampu mengubah segalanya. Oleh karena itu kita perlu melakukan perencanaan keuangan dengan baik.

Kita harus bisa membedakan pos mana yang harus kita sisihkan dan mana yang harus kita sisahkan. Pos yang harus kita sisihkan adalah Dana Darurat sebesar 6 kali dari penghasilan kita, Pajak, Charity, dan Hutang. Untuk Hutang maksimal hanya 30% dari income, dan Hutang terbagi menjadi dua yaitu hutang produktif dan hutang tidak produktif. Hutang Produktif hanya 20% dari total hutang, sedangkan hutang konsumtif tidak boleh lebih dari 10% dari total hutang.

Apabila hutang produktif lebih besar dari hutang konsumtif secara presentasi masih boleh, karena hutang produktif meliputi modal kerja, pembelian aset yang memberikan manfaat dan nilai investasi. Sedangkan hutang tidak produktif adalah hutang yang tidak ada nilai investasinya seperti pembelian gadget dll. Setelah itu baru kita sisihkan untuk biaya hidup.

Dengan melakukan perencanaan keuangan yang baik maka kita akan dapat membedakan mana yang harus kita prioritaskan terlebih dahulu.

Didalam perjalanan menyisihkan dan menyisakan tentunya akan sangat banyak sekali risiko yang terjadi baik itu sakit kritis atau bahkan sakit Covid-19 yang menjadi pandemi di seluruh dunia, kecelakaan bahkan resiko meninggal dunia. Dengan adanya risiko tersebut tentunya kita wajib mengalihkannya kepada manajemen risiko yang siap membantu anda untuk tetap mewujudkan cita-cita keluarga anda.

Karena kita sekarang adalah sumber uang bagi kita sekarang. kita sekarang juga adalah sumber uang bagi kita kelak. Dan kita sekarang adalah sumber uang bagi keturunan kita.

Saya Billy Tegar Pradipta
3-year MDRT Member