Pada tahun 1962, Dr. Mortimer J. Adler berbicara dalam Main Platform di Annual Meeting (Pertemuan Tahunan) di Montreal, Kanada. Dr. Adler mendorong para peserta untuk mendedikasikan diri mereka tidak hanya kepada kepentingan profesional, tetapi juga kepada "semua bagian dari kehidupan - cara kita menghabiskan tahun-tahun dalam kehidupan kita dan hari-hari dalam tahun-tahun kehidupan kita."
Pidato penting ini memelopori pengembangan konsep MDRT yang disebut the Whole Person concept, yang pada mulanya disebut the Whole Man concept .
Pada tahun 1992, Komite Whole Person merancang definisi Whole Person:
"Para Whole Person sepanjang hidupnya berupaya mencapai keseimbangan
dan keharmonisan dalam semua aspek hidup mereka dan secara terus menerus berusaha mengembangkan potensi mereka sebagai manusia sepenuhnya."
Komite tersebut juga mengidentifikasi tujuh aspek yang penting dalam hidup yang hendaknya berada dalam keseimbangan - keluarga, kesehatan, pendidikan, karir, pelayanan, keuangan dan keagamaan.
Keluarga
"Para Whole Person menghabiskan waktu yang berkualitas bersama dengan pasangan, anak-anak, ibu, bapak, kakak dan adik lak-laki dan perempuan, dan anggota keluarga lainnya, serta berupaya supaya hubungan-hubungan ini memiliki landasan-landasan: kasih sayang, berbagi, saling menghormati, dan keterbukaan."
Kesehatan
Pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat adalah bagian-bagian yang penting agar seseorang berada dalam keseimbangan.
Pendidikan
Para Whole Person hendaknya ". mencari pengetahuan dan ketrampilan baru karena kekayaan dan kegunaan yang dapat diberikannya pada kehidupan dan antusias untuk melanjutkan proses belajar sepanjang hidupnya. Nasihat ini berlaku tidak hanya dalam hal bisnis, tetapi juga dalam hal-hal sosial dan emosional.
Karir
Para Whole Person hendaknya ". dalam bimbingan kode etik, bekerja supaya lebih produktif, mencari pengetahuan dan ketrampilan sepanjang karirnya, dan berpartisipasi dalam serta memberi kontribusi pada organisasi industri dan profesional.
Pelayanan
"Para Whole Person mengkontribusi waktu, energi dan kepemimpinan, begitu pula sumber keuangan, kepada organisasi masyarakat dan pelayanan umum, institusi pendidikan, pemerintah, organisasi lokal dan amal, dan kegiatan bermanfaat lainnya, secara sukarela dan tanpa keinginan untuk manfaat pribadi.
Keuangan
"Para Whole Person tahu bagaimana hidup dalam lingkup pendapatannya, menikmati dan membagi hasil jerih payanya, dan merencanakan dan melaksanakan program-program untuk menciptakan, mengumpulkan dan mempertahankan modal yang sesuai dengan tahap-tahap kehidupan mereka."
Kerohanian Para Whole Person hendaknya "menjalani hidup yang berprinsip yang sesuai dengan kepercayaan mereka, dan berupaya untuk berkembang dalam kerohanian mereka." Suatu hal penting dalam aspek ini adalah bahwa ia tidak menekankan pada suatu kepercayaan tertentu, atau bahkan agama yang terorganisasi. Aspek Kerohanian merefleksikan nilai-nilai dan sikap-sikap yang umum ditemukan di antara orang sedunia: kepercayaan, idealisme, standar, saling hormat, dukungan, etika, inspirasi dan moralitas.