Belajar Menikmati Hidup #DiRumahAja

Setelah melewati  tiga minggu di rumah aja seperti yang dianjurkan oleh pemerintah Indonesia sehubungan dengan wabah Covid-19,  ada banyak perasaan yang aneh timbul dalam diri kita. Tiba-tiba saja hidup jadi berubah. Orang tua bekerja di rumah dan anak-anak sekolah di rumah. Irama hidup yang tadinya serba cepat, tiba-tiba menjadi sedikit senyap.

Perubahan hidup seperti ini dipaksa untuk kita alami seperti kita dipaksa untuk pantang makanan yang enak oleh dokter. Biasanya kita menantikan liburan, tetapi ketika harus hidup di rumah tanpa batas waktu yang jelas, rupanya membuat banyak orang jadi gelisah. Gelisah karena memikirkan masa depan untuk pekerjaan/bisnis.

Barangkali memang kesalahan kita yang seringkali mengukur kesuksesan dari aspek produktivitas pekerjaan semata. MDRT mengajarkan whole person concept yang memiliki 7 pilar yakni karir, pendidikan, kesehatan, relasi, spiritual, keuangan dan pelayanan. Ketimbang melihat wabah Covid-19 ini sebagai great disaster, lebih baik kita mencoba melihatnya sebagai kesempatan untuk mengkoreksi diri (great corrector).

Menikmati hidup #dirumahaja membuat kita bisa mengembangkan aspek pilar kehidupan lainnya yang selama ini agak terbengkalai. Saya tidak bahas soal karir karena saya mau mengajak kita melihat aspek pilar lainnya.

Pendidikan,
Selama ini kita sulit cari waktu untuk upgrade diri. Saya memakai waktu di rumah untuk belajar teknologi. Belajar menggunakan aplikasi Zoom yang ternyata berguna sekali untuk kondisi saat ini, belajar membuat video slide dengan power point dan membaca buku-buku bermutu.

Kesehatan.
Kita jadi lebih diingatkan  tubuh yang sehat adalah harta yang berharga. Saya jadi lebih rajin minum vitamin, konsumsi banyak buah-buahan, lebih terdorong untuk berolahraga jalan pagi supaya terkena sinar matahari dan tentunya rajin cuci tangan.

Relasi.
Selama ini sulit punya waktu berkualitas dengan anak-anak karena kesibukan masing-masing. Saya memakai kesempatan ini untuk bermain kartu, bermain boardgame, menonton film bersama, melihat kembali album foto sewaktu mereka balita dan kami bisa tertawa melihat foto-foto jadul. Ternyata waktu begitu cepat dan saat ini anak-anak saya sudah beranjak remaja berusia 14 dan 17 tahun dan tubuh mereka sudah lebih tinggi dari saya. Dengan saat ini mereka belajar di rumah, kedekatan fisik membuat kami menjadi lebih akrab. Tidak ada lagi pertanyaan “Mama  hari ini pulang jam berapa?”

Spiritual. Nah menurut saya ini adalah aspek yang paling penting. Kita bisa memakai waktu #dirumahaja untuk lebih mendekat kepada Tuhan dan  memikirkan ulang tentang arah hidup kita apakah sudah menyenangkan hati Tuhan. Saya jadi lebih rajin  mengikuti acara doa online karena merasa sangat butuh untuk berdoa dalam masa-masa ini. Saya membaca buku rohani untuk menyegarkan jiwa saya daripada membaca WAG (whatsapps group) yang isinya kurang lebih sama.

Keuangan.
Banyak yang baru sadar tentang pentingnya punya cadangan tunai untuk biaya hidup 3-6 bulan untuk antisipasi keadaan darurat. Saya mengevaluasi pos-pos pengeluaran yang tidak perlu dan mencoretnya contohnya liburan keluar negeri pun saya coret. Selama ini kita lebih boros karena merasa hidup akan selalu di atas.

Pelayanan.
Kita mungkin mudah untuk bergegas untuk menimbun dan membeli bahan pokok untuk antisipasi lockdown. Sementara itu kita mendengar banyak sekali orang-orang seperti supir ojol, supir taxi dan pekerja harian yang kesulitan untuk makan sehari-hari. Saya pun menyisihkan sebagian dari uang untuk turut berdonasi. Penghasilan memang menurun tetapi mengingat orang lain yang jauh lebih susah, mendorong saya untuk hidup berbagi.

Mari kita gunakan kesempatan #dirumahaja ini sebagai kesempatan untuk kita bisa bertumbuh untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Ditulis oleh
Miliana, CFP
11 tahun anggota MDRT dengan 3 kali Court of the Table